RSS

Studi Analisis Risiko Air Baku PDAM Kabupaten Sleman, Yogyakarta

30 Jan

I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Air yang berkualitas baik merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat, sehingga pada saat mereka mengonsumsinya diharapkan air tersebut tidak menyebabkan gangguan kesehatan. Air dikatakan berkualitas baik harus memenuhi persyaratan tertentu. Di Indonesia salah satu standar kualitas air yang berlaku adalah peraturan Menteri Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/ IX/1990 maupun PP RI No. 82 Th. 2001, yaitu tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Berdasarkan Klasifikasi Mutu Air Kelas Satu, yaitu air yang peruntukannya untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Kondisi air, khususnya untuk air baku di bawah permukaan tanah (berupa: sumur dangkal, sumur resapan, sumur dalam dan mata air) di wilayah Kabupaten Sleman secara alami berdasarkan geografisnya berada di daerah gunung berapi, sehingga kemungkinan mengandung kadar besi (Fe) dan mangan (Mn) yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium BBTKL PPM Yogyakarta pada 10 sumur sumber air baku PDAM Sleman, 5 di antaranya mengandung Fe dan/atau Mn melebihi baku mutu (BBTKL, 2008).
Pemantauan kualitas air selama ini hanya menghasilkan informasi kondisi air di suatu wilayah tercemar atau tidak (berdasarkan BM/NAB), tidak menggambarkan efek atau risiko terhadap kesehatan masyarakat. Padahal setiap bahan pencemar mempunyai efek yang spesifik terhadap kesehatan. Studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dapat memperkirakan efek bahan pencemar secara spesifik terhadap kesehatan. Analisis Risiko (risk assessment) merupakan karakterisasi efek-efek yang potensial merugikan kesehatan manusia oleh pajanan bahaya lingkungan (Rahman, 2007). Sehingga tujuan studi ini untuk mengetahui karakterisasi risiko kesehatan akibat bahan-bahan pencemar yang terkandung alam air baku dan pilihan-pilihan pengelolaan risiko kesehatan.

II. METODOLOGI
A.Prosedur ARKL
1.Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya merupa-kan tahapan pengenalan sumber risiko (Risk Agent). Karakterisasi risiko bisa dilakukan apabila konsentrasi risk agent dan nilai RfD (reference doses) diketahui. Sebagai risk agent pada studi ini adalah parameter-parameter kimia di 10 titik air baku PDAM Sleman tahun 2008 (BBTKL, 2008). Parameter-parameter yang diketahui nilai RfD-nya adalah: F-, Cd, Cr+6, Mn, NO2-N, Zn, namun dari 6 parameter tersebut yang diketahui konsentrasinya dengan jelas hanya F-, Mn, NO2-N, dan Zn saja, dan 4 prameter inilah yang digunakan sebagai risk agent untuk penghitungan karakterisasi risiko. Adapun konsentrasinya:
Tabel 2.1 Konsentrasi Risk Agent
Parameter Konsentrasi (mg/l)
Min Maks
F- 0,02 0,53
Mn 0,08 1,32
NO2-N 0,0032 0,0046
Zn 0,0166 0,0355
Sumber: BBTKL PPM Yogyakarta, 2008

2.Analisis Pajanan
Analisis pemajanan dimak-sudkan untuk mengenali jalur-jalur pemajanan risk agent sehingga jumlah asupan yang diterima individu dalam populasi berisiko dapat dihitung. Jalur pajanan risk agent adalah air minum.

3.Analisis Dosis-Respon
Analisis dosis-respon di-maksudkan untuk menetapkan nilai-nilai kuantitatif toksisitas risk agent yang dinyatakan sebagai RfD (reference doses) untuk efek-efek nonkarsinogenik. RfD menyatakan estimasi dosis pajanan harian yang diperkirakan tidak menimbulkan efek merugikan kesehatan meskipun pajanan berlanjut sepanjang hayat yang dinyatakan dalam mg risk agent per kg berat badan per hari (mg/kg/hari). Nilai RfD risk agent yang digunakan:
Tabel 2.2 Nilai RfD Risk Agent
Parameter RfD
mg/kg/hari Sumber
F- 6E-2 IRIS – EPA
Mn 5E-3 RAIS
NO2-N 1E-1 IRIS – EPA
Zn 3E-1 IRIS – EPA

4.Karakteristik Risiko
Karakteristik risiko dinyata-kan sebagai Tingkat Risiko (Risk Quotient/RQ) untuk efek-efek nonkarsinogenik. RQ dihitung dengan membagi asupan non-karsinogenik (intake/I) setiap risk agent dengan RfD-nya. Adapun perhitungan RQ sebagai berikut:
2

Keterangan:
I = asupan (intake), mg/kg/hari
C = konsentrasi ¬risk agent, mg/L
R = laju asupan atau konsumsi, L/hari
fE = frekuensi pajanan, hari/tahun
Dt = durasi pajanan, tahun
Wb = berat badan, kg
tavg = perioda waktu rata-rata
= 30 th × 365 hari/tahun untuk zat nonkarsinogenik,

Risiko kesehatan nonkarsinogenik dinyatakan ada dan perlu dikendalikan/dikelola jika RQ > 1.

B.Karakteristik Pemajanan
Jalur pemajanan risk agent adalah air minum. Faktor pemajanan untuk penghitungan karakteristik risiko untuk menghitung asupan (Intake) berdasarkan nilai default. Nilai faktor-faktor pemajanan yang digunakan sebagai berikut:

Tabel 2.3
Faktor-Faktor Pemajanan untuk Jalur Pemajanan Air Minum Sebagai Dasar Penghitungan Asupan/Intake untuk Populasi Berisiko Penduduk (Residensial)

3

Sumber: Exposure Factor Handbook (EPA, 1990)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Penghitungan Asupan/Intake
Berdasarkan data-data konsen-trasi risk agent (Tabel 2.1) dan faktor-faktor pemajanan (Tabel 2.3), berikut contoh perhitungan nilai asupan (I) risk agent F- dengan konsentrasi minimal 0,02 mg/l dan maksimal 0,53 mg/l yang diterima individu penduduk dengan berat badan 55 kg; konsumsi harian 2 L selama 350 hr/th untuk durasi pajanan 30 th (lifel-time):
4
5

Nilai Asupan risk agent seluruhnya dicantumkan dalam Tabel 3.1:
Tabel 3.1
Asupan/Intake Risk Agent F-, Mn,
NO2-N, dan Zn dengan Waktu Pajanan Life Time (30 th)
6
Sumber: data primer

Berdasarkan tabel asupan risk agent di atas berarti individu populasi dengan berat badan 55 kg yang mengonsumsi air baku sebanyak 2 L/hari selama 350 hari/th dalam durasi waktu pajanan 30 tahun minimal menerima asupan F-, Mn, NO2-N, Zn masing-masing sebesar 0,001 mg; 0,003 mg; 0,0001 mg; 0,0006 mg dan asupan maksimal masing-masing sebesar 0,018 mg; 0,046 mg; 0,0002 mg; 0,0012 mg setiap kg berat badan setiap hari.

B.Karakteristik Risiko
Karakteristik risiko dinyatakan sebagai Tingkat Risiko (Risk Quotient/RQ) untuk efek-efek nonkarsinogenik. RQ dihitung dengan membagi asupan nonkarsinogenik (intake/I) setiap risk agent dengan RfD-nya. Berikut contoh perhitungan tingkat risiko (RQ) risk agent F- dengan konsentrasi minimal dan maksimal:
7

Tingkat risiko (RQ) risk agent lain seluruhnya dicantumkan dalam Tabel 3.2:

Tabel 3.2
Tingkat Risiko (RQ) risk agent F-, Mn, NO2-N, dan Zn PDAM Sleman
dengan Waktu Pajanan Life Time (30 th)
8
Sumber: data primer

Tabel 3.3
Distribusi Risk Agent Mn Air Baku PDAM Sleman Tahun 2008 yang Nilai RQ  1
9
Sumber: data primer

Hasil perhitungan tingkat risiko (RQ) (Tabel 3.2; 3.1) memberikan gambaran dari 4 risk agent (F-, Mn, NO2-N, dan Zn) hanya Mn saja yang nilai RQ ada yang melebihi 1 (Tabel 3.7), sedang 3 risk agent lain semuanya masih di bawah 1. Ini berarti asupan risk agent F-, NO2-N, dan Zn dengan konsentrasi yang terukur di 10 sumber air baku semuanya masih di bawah batas estimasi dosis pajanan harian yang diperkirakan tidak menimbulkan efek merugikan kesehatan; sedangkan untuk risk agent Mn dari 10 sumber air baku 60% telah melampaui batas estimasi dosis pajanan harian yang diperkirakan tidak menimbulkan efek merugikan kesehatan sehingga perlu dilakukan pengelolaan risiko. Upaya-upaya pengelolaan risiko tersebut disebut Manajemen Risiko

C.Manajemen Risiko
Manajemen risiko merupakan proses pengelolaan risiko yang berfungsi meminimalkan risiko kesehatan yang dialami populasi berisiko. Risk agent yang perlu dilakukan pengelolaan pada studi ini adalah Mn. Pengelolaan risiko pada dasarnya adalah membuat skenario agar tingkat risiko (RQ)  1. Skenario ini dilakukan dengan memanipulasi intake agar nilainya sama dengan RfD sehingga . Untuk membuat I = RfD dapat dilakukan dengan tiga skenario:
1.Pengendalian waktu pajanan (fE), dengan konsentrasi risk agent tetap seperti pada saat diukur, untuk durasi pajanan 30 tahun (life time)
2.Pengendalian risk agent (C) dengan menurunkan konsentrasi-nya, khusunya untuk durasi pajanan (Dt) 30 tahun (life time);
3.Pengendalian konsumsi per hari (R).
Skenario (1), pengendalian waktu pajanan (fE), dengan mengurangi waktu kontak tidak mudah dilakukan. Mengingat populasi penduduk berisiko memang berdomisili di tempat tersebut. Sedang kebiasaan pergi ke luar daerah untuk satu atau beberapa hari kebanyakan tergantung dari kondisi masyarakat itu sendiri, artinya tidak tetap (tidak pasti dalam satu tahun pergi ke luar daerah). Skenario (2), pengendalian risk agent (C), dilakukan dengan upaya menurunkan konsentrasi risk agent, yaitu dengan melakukan pengolahan air baku. Skenario (3), pengendalian jumlah konsumsi (R) dilakukan dengan upaya mengurangi atau bahkan mengganti sumber air minumnya. Hal ini berarti harus melakukan pencarian sumber air baku yang baru. Dari 3 skenario, melakukan skenario (2) lebih memungkinkan dibaningkan skenario (1) maupun (3).

SKENARIO PENGENDALIAN RISK AGENT
Skenario ini merupakan upaya menurunkan konsentrasi Mn menjadi tidak menimbulkan risiko gangguan kesehatan nonkarsinogenik. Besar penurunan konsentrasi bersifat spesifik untuk setiap individu kelompok populasi berisiko karena adanya perbedaan pola pajanan dan karakteristik antropometri. Persamaan yang digunakan:
10

Berikut contoh perhitungan menentukan konsentrasi Mn yang aman bagi individu populasi dengan berat badan 55 kg; laju konsumsi 2 L/hr selama 350 hr/th untuk durasi waktu pajanan 30 th (life-time):
11

Jadi berdasarkan skenario pengendalian Mn di atas terlihat konsentrasi yang aman maksimal 0,143 mg/L. Setelah konsentrasi aman risk agent Mn bagi setiap kelompok populasi berisiko diketahui, langkah selanjutnya bagaimana mengendali-kan polutan tersebut agar berada pada konsentrasi amannya. Ada 2 (dua) cara upaya pengendalian TSP, yaitu pengendalian secara teknik dan pengendalian secara administratif atau legal.
Pengandalian secara teknik pada prinsipnya adalah menurunkan konsentrasi Mn, yaitu dengan cara pengolahan air baku. Sedangkan pengendalian secara administratif dilakukan dengan menerapkan aturan atau regulasi untuk memastikan bahwa pengendalian cara pertama dilaksanakan dengan taat asas.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan air yang digunakan sebagai air baku PDAM Sleman pada pemeriksaan tahun 2008 memberikan informasi bahwa sebagian besar air sumber air baku yang digunakan tidak layak untuk langsung didistribusikan ke masyara-kat tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu mengingat sebagian besar sumber air baku mengandung Mn dengan konsentrasi yang menunjuk-kan terdapat risiko nonkarsinogenik bagi individu populasi dewasa dengan karakteristik berat badan 55 kg, laju konsumsi air PDAM 2 L/hr, selama 350 hr/th untuk durasi jangka waktu 30 th.

B.Saran
Beberapa masukan yang bisa direkomendasikan sehubungan dengan kualitas air baku PDAM yang terukur:
1.Perlu melakukan pemantauan kualitas air baku secara rutin, karena terkait dengan proses pengolahan air baku maupun risiko bagi pelanggan/ pengguna air PDAM.
2.Melakukan pengolahan air baku sebelum didistribusikan ke palanggan
3.Melakukan perlindungan terha-dap sumber air baku dan peremajaan perpipaan guna meminimalkan kemungkinan terjadinya pencemaran.

PUSTAKA
BBTKL PPM Yogyakarta, 2008, Kajian Pemantauan Kualitas Air Baku PDAM Propinsi DIY, tidak dipublikasikan
Lagrega, Buckingham, Evans, Hazardous Waste Management, 1994, McGraw-Hill, Inc, Princeton Road, S-1 Hightstown, NJ 08520

Rahman A, 2007, Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (Program Intensif Tingkat Dasar), Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Studi AMDAL dan Kasus-kasus Pencemaran Lingkungan, Pusat Kajian Kesehatan Lingkungan & Industri FKM UI, Depok

RAIS, 1995, Toxicity Profiles: Toxicity Summary for Manganese. http://rais.ornl.gov/tox/profiles/mn.shtml
IUS.EPA,1993,IRIS. http://www.epa.gov/iris/rfd.htm

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30/01/2009 in Artikel

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: